Bulan lalu, tim kami mendapat tugas menarik: membuat konten eksplorasi untuk brand Paragon di salah satu mall besar di Semarang. Harapannya, menampilkan produk-produk mereka dengan visual yang menarik. Saya sendiri yang memegang kamera, Lumix S5iix dengan lensa Lumix S 50mm f/1.8, siap merekam. Namun, begitu mulai syuting di area supermarket, saya langsung sadar ada yang aneh. Cahaya dari lampu-lampu di sana memantulkan warna hijau yang kuat, membuat tampilan produk, terutama yang berwarna cerah seperti buah-buahan atau kemasan makanan, terlihat tidak natural. Warna kulit orang pun jadi sedikit pucat dan kehijauan.
Ini tantangan klasik saat syuting di lingkungan dengan pencahayaan buatan yang spektrumnya tidak ideal. Sebagai production house, kami tahu bahwa masalah lighting bukan hal baru. Tapi, masalahnya, kami tidak bisa seenaknya mengganti lampu-lampu di seluruh area mall yang sudah diatur oleh manajemen. Jadi, saya harus mencari solusi di pasca-produksi. Di sinilah pentingnya kemampuan color grading yang mumpuni.
Kenapa Pencahayaan Mall Sering Bermasalah?
Pencahayaan di area publik seperti mall, terutama supermarket atau food court, seringkali menggunakan lampu jenis fluorescent atau LED dengan temperatur warna yang tidak konsisten. Lampu-lampu ini seringkali memancarkan spektrum hijau atau magenta yang kuat. Ini berbeda dengan pencahayaan yang kita gunakan di studio, seperti Aputure Amaran 200x, yang bisa kita atur temperatur warnanya secara presisi (misal, 5600K untuk daylight). Di mall, kita bergantung pada apa yang sudah ada. Spektrum cahaya yang tidak seimbang ini akan terekam oleh kamera, dan hasilnya bisa membuat warna terlihat aneh.
Pernah sekali saya syuting di sebuah kafe di Kota Lama yang pencahayaannya sangat hangat, tapi justru terlalu oranye. Produk kopi yang tadinya terlihat menarik jadi seperti gosong. Nah, bayangkan jika yang terekam adalah warna hijau yang kuat seperti di Paragon kemarin. Buah stroberi jadi terlihat seperti mentimun!
Di sinilah peran penting color grading. Saya tidak bisa mengubah sumber cahaya yang ada, tetapi saya bisa ‘memperbaikinya’ di software editing. Kami menggunakan DaVinci Resolve untuk proses ini, karena kemampuannya dalam menangani color correction dan color grading sangat powerful. Alih-alih hanya mengatur kecerahan dan kontras, saya harus melakukan ‘white balance correction’ yang lebih mendalam, bahkan hingga ke level ‘hue’ dan ‘saturation’ untuk setiap warna yang bermasalah.
Terkadang, ini seperti pekerjaan detektif warna. Kita harus mengidentifikasi sumber masalah warna (dalam kasus ini, hijau yang berlebihan) dan menguranginya, sambil memastikan warna lain tetap terjaga. Prosesnya membutuhkan ketelitian ekstra, terutama jika kita ingin hasil akhirnya terlihat natural dan tidak seperti hasil editan yang berlebihan. Ini bukan sekadar menaikkan exposure atau saturation, tapi menyeimbangkan seluruh palet warna yang sudah terekam agar sesuai dengan persepsi mata kita.
Teknik Color Grading untuk Memperbaiki Warna Hijau
Ketika saya membawa footage dari mall tersebut ke DaVinci Resolve, langkah pertama adalah melakukan ‘basic correction’. Saya sesuaikan exposure dan kontras agar gambar terlihat baik secara umum. Namun, masalah hijau masih sangat dominan. Di sini, saya masuk ke panel ‘Color’. Saya mulai dengan tool ‘Primary Wheels’. Saya perhatikan ‘Gain’ dan ‘Gamma’ wheel. Untuk mengurangi hijau, saya harus ‘membuang’ warna hijau dari sana. Di DaVinci Resolve, setiap wheel punya kontrol ‘Lift’, ‘Gamma’, dan ‘Gain’. Di bawahnya ada roda warna kecil yang bisa kita geser. Untuk mengurangi hijau, saya menggeser roda warna kecil ke arah magenta (lawan dari hijau). Saya lakukan ini sedikit demi sedikit pada ‘Gamma’ dan ‘Lift’ untuk melihat dampaknya pada keseluruhan gambar.
Setelah penyesuaian primer, warna hijau memang berkurang, tapi kadang muncul masalah lain. Mungkin warna kulit jadi terlalu magenta, atau warna biru jadi sedikit ungu. Di sinilah saya beralih ke ‘Curves’. Saya menggunakan ‘Hue vs Sat’ dan ‘Hue vs Hue’ curves. Misalnya, di ‘Hue vs Sat’, saya memilih titik hijau dan menurunkan saturation-nya. Lalu, di ‘Hue vs Hue’, saya memilih titik hijau dan menggesernya sedikit ke arah kuning atau cyan, tergantung apa yang terlihat lebih natural.
Ini adalah proses trial and error yang cukup panjang. Saya juga sering menggunakan ‘Qualifier’ tool untuk mengisolasi warna hijau tertentu saja dan menguranginya tanpa mempengaruhi warna lain secara drastis. Misalnya, saya bisa menargetkan hanya warna hijau yang ada di daun-daun dekorasi, sementara warna hijau pada buah-buahan tetap saya biarkan natural.
Durasi pengerjaan color grading untuk satu klip pendek bisa memakan waktu 15-30 menit, tergantung seberapa parah masalahnya. Untuk keseluruhan project, bisa memakan waktu berjam-jam. Hasil akhirnya, warna produk kembali cerah dan natural, warna kulit subjek terlihat sehat, dan secara keseluruhan video jadi lebih enak dilihat. Ini adalah bukti bahwa kemampuan color grading bisa menyelamatkan syuting yang terkendala lighting.
Kapan Perlu Melakukan Color Grading Mendalam?
Color grading bukan hanya tentang membuat video terlihat ‘estetik’ atau ‘cinematic’ dengan tambahan LUTs. Padahal color grading juga alat krusial untuk memperbaiki masalah teknis pada rekaman video. Kapan kita perlu melakukan color grading yang lebih dari sekadar penyesuaian dasar? Pertama, ketika syuting di lokasi dengan pencahayaan yang sangat tidak ideal, seperti kasus mall kemarin. Lampu-lampu di supermarket, rumah sakit, atau bahkan kantor yang pencahayaannya kurang baik bisa membuat warna jadi aneh.
Kedua, ketika kita menggunakan kamera dengan dynamic range terbatas atau merekam dalam format yang kurang ‘flat’ (misalnya, tidak merekam dalam LOG profile). Kamera consumer seperti Lumix S5iix bisa merekam dalam V-Log, yang memberikan fleksibilitas luar biasa saat color grading. Tapi, jika merekam dalam profil warna standar, ruang untuk perbaikan akan lebih sempit.
Ketiga, ketika kita ingin menciptakan mood atau gaya visual tertentu. Misalnya, untuk video horor, kita mungkin ingin membuat warna jadi lebih dingin dan gelap. Atau untuk video komedi romantis, kita ingin warna lebih cerah dan hangat.
Keempat, saat mengkompilasi footage dari sumber cahaya yang berbeda-beda. Misalnya, sebagian syuting di luar ruangan (daylight) dan sebagian di dalam ruangan (indoor lighting). Warna-warnanya bisa sangat berbeda dan perlu disatukan melalui color grading.
Kami pernah membuat video company profile untuk sebuah pabrik di sekitar Banyumanik yang fasilitasnya punya pencahayaan campur aduk antara LED modern dan lampu neon tua. Tanpa color grading yang kuat, transisi antar scene akan sangat mengganggu mata penonton.
Perbandingan: Color Grading vs. Perbaikan Lighting di Lokasi
| Aspek | Color Grading (Pasca Produksi) | Perbaikan Lighting di Lokasi (Pra Produksi) |
|---|---|---|
| Biaya | Relatif lebih murah jika sudah punya software & skill. Biaya utama adalah waktu editor. | Bisa sangat mahal jika perlu sewa genset, lighting tambahan besar, atau negosiasi izin penggunaan area. |
| Fleksibilitas | Sangat fleksibel. Bisa memperbaiki hampir semua masalah warna, menciptakan mood, menyatukan warna. | Terbatas pada alat yang dibawa. Sulit jika sumber cahaya utama tidak bisa diubah. |
| Waktu | Dilakukan setelah syuting selesai. Bisa memakan waktu berjam-jam per video. | Dilakukan sebelum atau selama syuting. Membutuhkan penyesuaian di lokasi yang bisa memakan waktu. |
| Hasil | Bisa sangat presisi, memperbaiki detail warna, menciptakan look spesifik. | Tergantung kualitas alat dan skill lighting director. Hasil lebih ‘alami’ jika lightingnya bagus dari awal. |
| Risiko | Hasil bisa terlihat ‘tidak natural’ jika berlebihan. Membutuhkan skill tinggi. | Risiko teknis pada alat (genset mati, kabel putus). Keterbatasan ruang gerak. |
Memilih antara memperbaiki lighting di lokasi atau mengandalkan color grading seringkali bergantung pada budget, waktu, dan jenis project. Untuk syuting cepat di event, misalnya, mengandalkan lighting yang ada dan sedikit color grading di pasca produksi mungkin lebih efisien. Tapi untuk project yang membutuhkan visual sempurna seperti video produk atau company profile, investasi pada perbaikan lighting di lokasi—atau setidaknya penyesuaian—akan sangat membantu. Color grading memang bisa menyelamatkan footage seperti yang dari Paragon itu. Tapi pelajaran paling jujur dari hari itu justru sebaliknya: color grading bekerja paling baik sebagai jaring pengaman, bukan sebagai rencana utama.
Butuh tim produksi visual untuk project di Semarang? Labstory adalah production house berbasis Semarang. Lihat portofolio Labstory untuk contoh hasil kerja, atau kenali tim dan pendekatan kami.
FAQ
Mengapa warna di mall terlihat hijau?
Pencahayaan di mall sering menggunakan lampu fluorescent atau LED dengan spektrum warna yang tidak seimbang, yang cenderung memancarkan warna hijau atau magenta. Ini terekam oleh kamera dan membuat warna produk atau subjek terlihat aneh.
Alat apa yang digunakan untuk memperbaiki warna hijau di DaVinci Resolve?
Saya menggunakan tool seperti Primary Wheels (menggeser roda warna ke arah magenta untuk mengurangi hijau), Curves (Hue vs Sat, Hue vs Hue), dan Qualifier tool untuk mengisolasi serta menyesuaikan warna hijau secara spesifik.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk color grading?
Waktu pengerjaan bervariasi. Untuk satu klip pendek dengan masalah warna signifikan, bisa memakan waktu 15-30 menit. Untuk keseluruhan project, bisa berjam-jam, tergantung kerumitan dan durasi video.
Apakah color grading bisa memperbaiki semua masalah lighting?
Color grading sangat efektif untuk memperbaiki masalah warna yang disebabkan oleh spektrum cahaya yang buruk. Namun, color grading tidak bisa menciptakan detail yang hilang akibat overexposure (terlalu terang) atau underexposure (terlalu gelap) yang parah. Penting untuk mendapatkan eksposur yang baik saat syuting.





Leave a Reply